BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa
Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam mengungkapkan atau menuliskan
sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi. Terutama dalam kita
memahami ilmu agama yang mana bersumber dari Al-qur’an dan Al-hadist yang mana
diperlukan kaidah nahwu yangman di dalamnya terdapat kajian tentang I’rob.
Tetapi sebelum kami menjelaskan jauh tentang I’rob, penulis menjelaskan bahwa
kandungan dalam makalah ini seputar tentang sejarah ilmu nahwu terlebih dahulu,
karena kebanyakan kajian yang di ajarkan di Indonesia ini adalah mencakup
kaidahnya bukan sejarahnya. Maka sdari itu kami ingin menjelasjkan sedikit
tentang asal usul gramatikal bahasa arab.
2.
Rumusan Masalah
a.
Apa pengertian I’rob ?
b.
Apakah arti dari ilmu nahwu ?
c.
Siapakah peletak dasar ilmu nahwu ?
d.
Bagaimana pendapat ulama’ tentang ilmu nahwu ?
e.
Apa saja madzhab yang ada di dalam ilmu nahwu ?
3.
Tujuan
a.
Untuk mengetahui pengertian I’rob
b.
Untuk mengetahui devinisi dari ilmu nahwu
c.
Untuk mengetahui peletak dasar ilmu nahwu
d.
Untuk mengetahui sebagian pendapat ulama
tentang ilmu nahwu
e.
Untuk menegtahui madzhab-madzhab ilmu nahwu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
I'rob (الإعراب)
I'rob
adalah perubahan akhir kata karena perbedaan 'amil yang masuk pada kata
tersebut, baik secara lafadz (jelas) atau muqoddaroh (tersembunyi). (Sumber:
matan Al Ajrumiyyah ). Maksudnya adalah perubahan dari dhommah ke fathah,
dari fathah ke kasroh, dari dhommah ke sukun, dst. I'rob
hanya membahas akhir kata saja, tidak di depan dan tidak di tengah kata.
Perbedaan 'amil
akan mengakibatkan perbedaan kedudukan suatu kata di dalam kalimat. Jadi
perubahan akhir kata disebabkan oleh kedudukannya (sebagai subjek, objek, dst)
yang berbeda-beda di dalam kalimat.
Dalam
membahas tentang masalah I’rob ini kita perlu memasuki dan membahasa tentang
apa itu Ilmu Nahwu, karena di dalam ilmu inilah kita bisa mengetahui lebih
banyak tenatang I’rob.
B.
Devinisi Ilmu Nahwu
Ilmu
Nahwu merupakan bagian dari ‘Ulûmul ‘Arabiyyah, yang bertujuan untuk menjaga
Bahasa Arab dari kesalahan pengucapan maupun tulisan. Ilmu nahwu adalah ilmu
yang membahas tentang aturan akhir struktur kalimah (kata) apakah berbentuk
rafa’, nashab, jarr, atau jazm.
Ilmu Nahwu
merupakan ilmu yang pertama kali dibukukan dalam Islam, karena berkaitan dengan
memelihara lisan dari kesalahan ketika membaca al-Qur an. Disamping itu, ilmu
Nahwu juga termasuk kategori ilmu pembantu dalam mempelajari ilmu-ilmu lainnya.
Misalnya, ilmu Fiqh, Usul Fiqh, Tafsir, Mantiq (logika) dan lain-lainnya.
Sebagaimana
diketahui Bangsa Arab merupakan bangsa yang memilki bahasa dengan muatan
sastera yang tinggi. Di zaman Arab kuno setiap tahunnya diadakan pasar
seni dimana mereka berkumpul dan membanggakan syair-syair yang ada diantara
mereka. Salah satu pasar seni yang terkenal adalah ‘Ukadz yang diadakan pada
bulan Syawal.
Awalnya
bahasa Arab amat terjaga sampai islam menyebar luas ke negeri-negeri ‘ajam
(bukan Arab). Dari sinilah mulai timbul kesalahan dalam melafadzkan bahasa
arab. Penyebab utamanya adalah adanya percampuran antara bahasa arab dengan
‘ajam. Kekeliruan ini sangat berbahaya karena boleh merusak makna ayat Al
Quran. Sehingga Akhirnya kaidah-kaidah bahasa arab disusun dan diberi nama
nahwu.
C. Peletak Dasar Ilmu Nahwu
Ada perbedaan dikalangan para ahli mengenai
peletak dasar Ilmu Nahwu. Sebagian mengatakan, peletak dasarnya adalah Abul
Aswad Ad-Du’ali. Sebagian lagi menyebut Nashr bin ‘Ashim. Ada pula yang
menyebut Abdurrahman bin Hurmus. Namun yang paling populer diakui ahli sejarah
adalah Abul Aswad. Pendukung pendapat ini: Ibnu Qutaibah (wafat 272 H),
Al-Mubarrad (wafat 285 H), As-Sairafiy (wafat 368 H), Ar-Raghib Al-Ashfahaniy
(502 H), dan As-Suyuthiy (wafat 911 H), sedangkan dari kalangan ahli nahwu
kontemporer: Kamal Ibrahim, Musthofa As- Saqa, dan Ali an-Najdiy Nashif.
Abul Aswad Ad-Du’ali (wafat 69 H) dianggap
tokoh pertama yang mendapat kepercayaan Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk
menangani masalah lahn yang mulai mewabah di kalangan awam. Ia adalah penduduk
Bashrah yang jenius, berwawasan luas, dan mahir dalam bahasa Arab. Dalam sebuah
riwayat disebutkan suatu ketika Abul Aswad melihat Khalifah Ali r.a termenung,
maka ia mendekatinya dan bertanya “Wahai Amirul Mu’minin! Apa yang sedang
engkau pikirkan?” Ali menjawab “Saya dengar di negeri ini banyak terjadi
lahn, maka aku ingin menulis sebuah buku tentang dasar-dasar bahasa Arab”. Selang
beberapa hari Abul Aswad mendatangi Khalifah
Ali r.a dengan membawa lembaran bertuliskan: “Bismillahir
rahmaanir rahiim. Al-kalaamu kulluhu ismun wafi’lun wa harfun. Fal ismu maa
anbaa ‘anil musammaa, wal fi’lu maa anbaa ‘an harakatil musammaa, wal harfu maa
anbaa ‘an ma’nan laisa bi ismin walaa fi’lin”.
“Dengan nama Allah yang maha pengasih dan
penyayang. Ujaran itu terdiri dari isim, fi’il dan harf. Isim adalah kata yang
mengacu pada sesuatu (nomina), fi’il adalah kata yang menunjukkan aktifitas,
dan harf adalah kata yang menunjukkan makna yang tidak termasuk kategori isim
dan fi’il”.
Sebagaimana diketahui pada mulanya tulisan Arab
itu tidak bertitik dan tidak menggunakan tanda baca. Tidak ada tanda pembeda
antara huruf dal dan dzal, antara huruf sin dan syin, dan sebagainya. Juga
tidak ada perbedaan antara yang ber-harakat /a/, /i/, dan /u/. Demikian juga
tulisan yang ada pada mushaf Al-Qur’an awal (Utsmani), sehingga banyak orang
non Arab yang keliru dalam membaca Al-Qur’an.
Abul Aswad menemukan dengan memberi tanda baca
dalam Al-Qur’an dengan tinta berlainan warna dengan tulisan Al-Qur’an. Tanda
baca itu adalah titik diatas huruf (fathah), titik dibawah huruf (kasrah), dan
titik sebelah kiri atas (dlammah). Karena tanda baca itu berupa titik-titik,
maka dikenal dengan naqthul i'rab (titik I’rab).
Menurut
salah satu versi, sejarah lahirnyaa Ilmu Nahwu ini pada ketika zaman Abul Aswad
Ad-Dauli datang kerumah puterinya di tanah Basroh, (pada masa sekarang sebuah
negeri di negara Iraq). Pada saat itu puterinya mengatakan يَا أَبَتِ مَا اَشَدُّ الْحَرِّ, dengan membaca Rofa’ pada lafadz
اَشَدُّ dan membaca jar pada
lafazh الْحَرّ , yang menurut bahasa yang benar مَا nya
dilakukan sebagai Istifham yang artinya: “Wahai Ayahku ! Kenapa sangat panas?
Dengan
spontan Abul Aswad menjawap شَهْرُنَا هَذَا (Wahai
Puteriku, bulannya memamg musim panas).
Mendengar
jawapan Ayahnya, puterinya langsung berkata : “Wahai Ayah, saya tidak bertanya
kepadamu tentang panasnya bulan ini, tetapi saya memberi khabar kepadamu atas
kekagumanku pada panasnya bulan ini (yang semestinya jika dikehendaki Ta’ajub
diucapkan مَا اَشَدَّ الْحَرَّ , dengan membaca fathah pada اَشَدَّ dan
membaca Nashob الْحَرَّ ).
D. Pendapat ibnu khaldun tentag ilmu nahwu
Dalam al
Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun memandang “Ilmu Nahwu” sebagai bagian integral
dari seluruh pilar linguistik Arab (‘Ulûm al-Lisân al Arab) yang terdiri empat
cabang ilmu, yakni: Ilmu Bahasa (‘Ilm al Lughah), Ilmu Nahwu (‘Ilm al Nahwi),
Ilmu Bayan (‘Ilm al Bayân) dan Imu Sastra (‘Ilm al Adab). Disiplin Nahwu ini
pada masa formasinya sangat sederhana dan bersifat praktis. Didorong semangat
rasa tanggung jawab terhadap agama, ilmu Nahwu dimaksudkan sebagai pelurusan
terhadap bacaan-bacaan bahasa Arab (terutama ayat-ayat al-Qur’an) yang dianggap
menyalahi bacaan konvensional. Kesalahan-kealahan bacaan tersebut dalam tradisi
bahasa dan bangsa Arab disebut “al-Lahn”, yaitu kekeliruan dalam
berbahasa yang karenanya telah dianggap tidak fasih lagi.
E.
Madzhab Ilmu Nahwu
Dlaif
(1968) membagi perkembangan Ilmu Nahwu berdasarkan aliran-aliran (madzhab)
dengan menyebutkan sejumlah tokoh yang dominan pada setiap aliran. Ia
menyebutkan secara kronologis lima aliran nahwu sebagai berikut :
1)
aliran
Bashrah,
2)
aliran
Kufah,
3)
aliran
Baghdad,
4)
aliran
Andalusia, dan
5)
aliran
Mesir. Dua aliran
pertama, Bashrah dan Kufah, disebutnya sebagai aliran utama, karena
keduanya mempunyai otoritas dan independensi yang tinggi, kedua aliran tersebut
juga mempunyai pendukung yang banyak dan fanatik, sehingga mampu mewarnai
aliran-aliran berikutnya. Adapun tiga aliran yang lain disebutnya sebagai
aliran turunan yang berinduk pada salah satu aliran utama atau merupakan hasil
paduan antara keduanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar