Jumat, 11 Oktober 2013

makalah fenomena i'rob



BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Seperti halnya bahasa-bahasa yang lain, Bahasa Arab mempunyai kaidah-kaidah tersendiri di dalam mengungkapkan atau menuliskan sesuatu hal, baik berupa komunikasi atau informasi. Terutama dalam kita memahami ilmu agama yang mana bersumber dari Al-qur’an dan Al-hadist yang mana diperlukan kaidah nahwu yangman di dalamnya terdapat kajian tentang I’rob. Tetapi sebelum kami menjelaskan jauh tentang I’rob, penulis menjelaskan bahwa kandungan dalam makalah ini seputar tentang sejarah ilmu nahwu terlebih dahulu, karena kebanyakan kajian yang di ajarkan di Indonesia ini adalah mencakup kaidahnya bukan sejarahnya. Maka sdari itu kami ingin menjelasjkan sedikit tentang asal usul gramatikal bahasa arab.

2.      Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian I’rob ?
b.      Apakah arti dari ilmu nahwu ?
c.       Siapakah peletak dasar ilmu nahwu ?
d.      Bagaimana pendapat ulama’ tentang ilmu nahwu ?
e.       Apa saja madzhab yang ada di dalam ilmu nahwu ?

3.      Tujuan
a.       Untuk mengetahui pengertian I’rob
b.      Untuk mengetahui devinisi dari ilmu nahwu
c.       Untuk mengetahui peletak dasar ilmu nahwu
d.      Untuk mengetahui sebagian pendapat ulama tentang ilmu nahwu
e.       Untuk menegtahui madzhab-madzhab ilmu nahwu







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian I'rob (الإعراب)
I'rob adalah perubahan akhir kata karena perbedaan 'amil yang masuk pada kata tersebut, baik secara lafadz (jelas) atau muqoddaroh (tersembunyi). (Sumber: matan Al Ajrumiyyah ). Maksudnya adalah perubahan dari dhommah ke fathah, dari fathah ke kasroh, dari dhommah ke sukun, dst. I'rob hanya membahas akhir kata saja, tidak di depan dan tidak di tengah kata.
Perbedaan 'amil akan mengakibatkan perbedaan kedudukan suatu kata di dalam kalimat. Jadi perubahan akhir kata disebabkan oleh kedudukannya (sebagai subjek, objek, dst) yang berbeda-beda di dalam kalimat.
Dalam membahas tentang masalah I’rob ini kita perlu memasuki dan membahasa tentang apa itu Ilmu Nahwu, karena di dalam ilmu inilah kita bisa mengetahui lebih banyak tenatang I’rob.

B.     Devinisi Ilmu Nahwu
Ilmu Nahwu merupakan bagian dari ‘Ulûmul ‘Arabiyyah, yang bertujuan untuk menjaga Bahasa Arab dari kesalahan pengucapan maupun tulisan. Ilmu nahwu adalah ilmu yang membahas tentang aturan akhir struktur kalimah (kata) apakah berbentuk rafa’, nashab, jarr, atau jazm.
Ilmu Nahwu merupakan ilmu yang pertama kali dibukukan dalam Islam, karena berkaitan dengan memelihara lisan dari kesalahan ketika membaca al-Qur an. Disamping itu, ilmu Nahwu juga termasuk kategori ilmu pembantu dalam mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Misalnya, ilmu Fiqh, Usul Fiqh, Tafsir, Mantiq (logika) dan lain-lainnya.
Sebagaimana diketahui Bangsa Arab merupakan bangsa yang memilki bahasa dengan muatan sastera  yang tinggi. Di zaman Arab kuno setiap tahunnya diadakan pasar seni dimana mereka berkumpul dan membanggakan syair-syair yang ada diantara mereka. Salah satu pasar seni yang terkenal adalah ‘Ukadz yang diadakan pada bulan Syawal.
Awalnya bahasa Arab amat terjaga sampai islam menyebar luas ke negeri-negeri ‘ajam (bukan Arab). Dari sinilah mulai timbul kesalahan dalam melafadzkan bahasa arab. Penyebab utamanya adalah adanya percampuran antara bahasa arab dengan ‘ajam. Kekeliruan ini sangat berbahaya karena boleh merusak makna ayat Al Quran. Sehingga Akhirnya kaidah-kaidah bahasa arab disusun dan diberi nama nahwu.
C.    Peletak Dasar Ilmu Nahwu
Ada perbedaan dikalangan para ahli mengenai peletak dasar Ilmu Nahwu. Sebagian mengatakan, peletak dasarnya adalah Abul Aswad Ad-Du’ali. Sebagian lagi menyebut Nashr bin ‘Ashim. Ada pula yang menyebut Abdurrahman bin Hurmus. Namun yang paling populer diakui ahli sejarah adalah Abul Aswad. Pendukung pendapat ini: Ibnu Qutaibah (wafat 272 H), Al-Mubarrad (wafat 285 H), As-Sairafiy (wafat 368 H), Ar-Raghib Al-Ashfahaniy (502 H), dan As-Suyuthiy (wafat 911 H), sedangkan dari kalangan ahli nahwu kontemporer: Kamal Ibrahim, Musthofa As- Saqa, dan Ali an-Najdiy Nashif.
Abul Aswad Ad-Du’ali (wafat 69 H) dianggap tokoh pertama yang mendapat kepercayaan Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk menangani masalah lahn yang mulai mewabah di kalangan awam. Ia adalah penduduk Bashrah yang jenius, berwawasan luas, dan mahir dalam bahasa Arab. Dalam sebuah riwayat disebutkan suatu ketika Abul Aswad melihat Khalifah Ali r.a termenung, maka ia mendekatinya dan bertanya “Wahai Amirul Mu’minin! Apa yang sedang engkau pikirkan?” Ali menjawab “Saya dengar di negeri ini banyak terjadi lahn, maka aku ingin menulis sebuah buku tentang dasar-dasar bahasa Arab”. Selang beberapa hari Abul Aswad mendatangi Khalifah
Ali r.a dengan membawa lembaran bertuliskan: “Bismillahir rahmaanir rahiim. Al-kalaamu kulluhu ismun wafi’lun wa harfun. Fal ismu maa anbaa ‘anil musammaa, wal fi’lu maa anbaa ‘an harakatil musammaa, wal harfu maa anbaa ‘an ma’nan laisa bi ismin walaa fi’lin”.
“Dengan nama Allah yang maha pengasih dan penyayang. Ujaran itu terdiri dari isim, fi’il dan harf. Isim adalah kata yang mengacu pada sesuatu (nomina), fi’il adalah kata yang menunjukkan aktifitas, dan harf adalah kata yang menunjukkan makna yang tidak termasuk kategori isim dan fi’il”.
Sebagaimana diketahui pada mulanya tulisan Arab itu tidak bertitik dan tidak menggunakan tanda baca. Tidak ada tanda pembeda antara huruf dal dan dzal, antara huruf sin dan syin, dan sebagainya. Juga tidak ada perbedaan antara yang ber-harakat /a/, /i/, dan /u/. Demikian juga tulisan yang ada pada mushaf Al-Qur’an awal (Utsmani), sehingga banyak orang non Arab yang keliru dalam membaca Al-Qur’an.
Abul Aswad menemukan dengan memberi tanda baca dalam Al-Qur’an dengan tinta berlainan warna dengan tulisan Al-Qur’an. Tanda baca itu adalah titik diatas huruf (fathah), titik dibawah huruf (kasrah), dan titik sebelah kiri atas (dlammah). Karena tanda baca itu berupa titik-titik, maka dikenal dengan naqthul i'rab (titik I’rab).
Menurut salah satu versi, sejarah lahirnyaa Ilmu Nahwu ini pada ketika zaman Abul Aswad Ad-Dauli datang kerumah puterinya di tanah Basroh, (pada masa sekarang sebuah negeri di negara Iraq). Pada saat itu puterinya mengatakan يَا أَبَتِ مَا اَشَدُّ الْحَرِّ, dengan membaca Rofa’ pada lafadz اَشَدُّ dan membaca jar pada lafazh الْحَرّ , yang menurut bahasa yang benar مَا nya dilakukan sebagai Istifham yang artinya: “Wahai Ayahku ! Kenapa sangat panas?
Dengan spontan Abul Aswad menjawap شَهْرُنَا هَذَا (Wahai Puteriku, bulannya memamg musim panas).
Mendengar jawapan Ayahnya, puterinya langsung berkata : “Wahai Ayah, saya tidak bertanya kepadamu tentang panasnya bulan ini, tetapi saya memberi khabar kepadamu atas kekagumanku pada panasnya bulan ini (yang semestinya jika dikehendaki Ta’ajub diucapkan مَا اَشَدَّ الْحَرَّ , dengan membaca fathah pada اَشَدَّ dan membaca Nashob الْحَرَّ ). 
D.    Pendapat ibnu khaldun tentag ilmu nahwu
Dalam al Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun memandang “Ilmu Nahwu” sebagai bagian integral dari seluruh pilar linguistik Arab (‘Ulûm al-Lisân al Arab) yang terdiri empat cabang ilmu, yakni: Ilmu Bahasa (‘Ilm al Lughah), Ilmu Nahwu (‘Ilm al Nahwi), Ilmu Bayan (‘Ilm al Bayân) dan Imu Sastra (‘Ilm al Adab). Disiplin Nahwu ini pada masa formasinya sangat sederhana dan bersifat praktis. Didorong semangat rasa tanggung jawab terhadap agama, ilmu Nahwu dimaksudkan sebagai pelurusan terhadap bacaan-bacaan bahasa Arab (terutama ayat-ayat al-Qur’an) yang dianggap menyalahi bacaan konvensional. Kesalahan-kealahan bacaan tersebut dalam tradisi bahasa dan bangsa Arab disebut “al-Lahn”,  yaitu kekeliruan dalam berbahasa yang karenanya telah dianggap tidak fasih lagi.
E.     Madzhab Ilmu Nahwu

Dlaif (1968) membagi perkembangan Ilmu Nahwu berdasarkan aliran-aliran (madzhab) dengan menyebutkan sejumlah tokoh yang dominan pada setiap aliran. Ia menyebutkan secara kronologis lima aliran nahwu sebagai berikut :
1)      aliran Bashrah,
2)      aliran Kufah,
3)      aliran Baghdad,
4)      aliran Andalusia, dan
5)      aliran Mesir. Dua aliran
pertama, Bashrah dan Kufah, disebutnya sebagai aliran utama, karena keduanya mempunyai otoritas dan independensi yang tinggi, kedua aliran tersebut juga mempunyai pendukung yang banyak dan fanatik, sehingga mampu mewarnai aliran-aliran berikutnya. Adapun tiga aliran yang lain disebutnya sebagai aliran turunan yang berinduk pada salah satu aliran utama atau merupakan hasil paduan antara keduanya.